Kamis, 27 November 2008

finally we're married


setelah tersandung beberapa batu walaupun tidak sempat terjatuh tapi agak berat juga dan akhirnya kami menikah...ini bukan cerita happy ending yang sering dibuat sutradara Korea untuk filmnya, tetapi ini adalah babak baru dalam hidup kami. kmi memang tidak menginjak batu lagi, tetapi mungkin akan melewati jurang dan gurun pasir (damn!) but we have to face the truth...!! persiapan untuk melalui itu akan berjalan bertahap masa ke masa seiring dengan kematangan pikiran...tapi detik ini aku hanya ingin memikirkan dia saja karena aku beruntung menjadi istrinya ...!!

Rabu, 04 Juni 2008

RADIT N JANI


barusan nonton radit dan jani…ceritanya emang cukup membuat aku feeling blue… yang aku simpulkan adalah mereka suami istri tanpa izin yang hidup bahagia dengan kantong kering, tiap hari mabok n have sex, dan segudang cinta untuk pasangan tanpa pamrih, tapi pada akhirnya duit juga yang misahin mereka walaupun berat tapi harus!

Kayaknya Emang cinta hari gini ga ada arti tanpa duit, karena yang bisa bahagiain pasangan emang harus dibeli pake duit…jadi pantes aja orang berantem,bunuh-bunuhan demi duit..

Duit..duit…duit..kecil-kecil tapi bahaya juga…

Berarti di kehidupan manusia sekarang cinta itu ga ada, yang ada cuma duit…duit…duit… is it true?

everlasting luv

I love my fiancée… I love my fiancée…

I love my fiancée…I love my fiancée…

I love my fiancée… I love my fiancée…

I love my fiancée…I love my fiancée…

pada malam selasa 2 juni menjelang 3 juni aku merindukan dia…

tak tau mengapa. Rasanya dia adalah kiriman terbaik yang Allah kasih untukku, rasanya dia jawaban atas do’aku, do’a orang tuaku yang selalu menginginkan yang terbaik untukku…

rasanya aku tidak mau bangun kalau ini hanya mimpi..aku harap dia memang benar yang terbaik untukku, semoga rasa ini akan selalu ada untuknya sampai mencium tanah.

Aku takut untuk membayangkan sesuatu terjadi kepada kami yang membuat mata basah…

foto ini adalah pertama kalinya kami mengambil gambar berdua, pada saat hati berbunga-bunga untuknya…senyum yang kubentuk bukan sebuah implementasi kenarsisan tapi memang mencerminkan hati yang bahagia karena merasa hangat ketika menaruh kepala dipundaknya…

Senin, 31 Maret 2008

TEMAN


Entah kenapa semalam aku mimpi bertemu seorang sahabat sewaktu SD walaupun kami tidak saling bicara, namanya Ade Agustina ia anak seorang kapten. Kami bersahabat sejak kelas 1 SD sampai kelas 6 SD. Kebetulan ayahku kenal dengan ornag tuannya, tetapi saat kelas 2 SD ia kehilangan ayahnya yang sakit. Aku ingat sekali saat itu waktu aku melintas rumahnya (Tiap pagi aku selalu berjalan kaki dengan kakakku melewati rumahnya untuk pergi sekolah dan terkadang kami pergi bareng) aku kaget kenapa rumahnya koq ramai sekali, lalu ia memanggilku lalu berkata “mi, aku ga sekolah hari ini papaku meninggal”, lalu aku bertanya selayaknya anak kelas 2 SD “koq kamu ga nangis, koq kamu diluar?” lalu dengan keluguannya ia menjawab “ga ah aku takut liat papa!”.

Padahal aku sering mendengar ia cerita, “ enak lho waktu papaku masih ada, aku jalan-jalan ke Jakarta (saat itu aku saja belum tau bagaimana wajah Jakarta apalagi datang kesana) ” ia menunjukkan boneka barbie yang mahal dibelikan oleh ayahnya.

Kami berpisah ketika lulus-lulusan SD, saat tu aku dapat SMP negeri dan ia bersekolah di sekolah swasta, lalu aku pindah rumah sehingga aku tidak melewati rumahnya lagi saat pulang sekolah.

Sejak ayahnya meninggal kehidupannya berubah, mereka bergantung kepada abangnya yang aku tau abangnya pasti tak sehebat ayahnya. Dan memang benar, kabar terakhir yang aku dengar adalah ibunya telah menjual rumah mereka.

Aku sangat merindukannya, ia memang sahabat terbaik, pada waktu aku kecil aku tidak berani menyebrang jalan maka ia membantuku menyebrang padahal ia harus jalan lebih jauh. Susah menemukan teman seperti itu lagi saat ini, yang semua berasas manfaat.

Aku ingin sekali bertemu dia, sharing tentang kehidupan kami, dan mengundangnya pada pernikahanku (aku tau dia pasti kaget) he..he

say no to plastics


Memang benar kata orang bijak yaitu dalam sebuah kalimat “mulailah dari dirimu sendiri” itulah yang aku lihat sewaktu aku sarapan pagi kemarin. Ada seorang laki-laki umurnya sekitar 50-55 tahun, laki-laki itu sangat eye cathing karena ia memakai sepeda, memakai masker penutup mulut untuk menghindari polusi dan debu dijalan yang aku akui memang jogja hebat untuk hal ini, kemudian yang membuat mataku terbelalak adalah bapak itu memakai tas berbahan kain dengan tulisan “SAY NO TO PLASTIC” berwarna hijau, aku yakin ia pasti memiliki kendaraan lain selain sepeda, seidaknya motor tapi ia memilih naik sepeda agar sedikit berpeluh dan yang terpenting ia dapat mengurangi CO2 yang dihasilkannya melaui asap kendaraan bermotor yang membuat gas rumah kaca semakin menebal. Tas kain yang ia gunakan bukan hanya agar orang lain sadar akan tulisan yang sarat makna, tetapi bahan yang digunakan bukanlah bahan plastik yang tidak dapat hancur hingga beribu-ribu tahun.

Kalau aku dapat bertemu langsung kepada orang tersebut, aku pasti akan angkat topi karena dia dapat mengurangi efek rumah kaca melalui dirinya sendiri yag sangat menginspirasi orang yang melihat. Ia tidak berkampanye pada sebuah tulisan, pidato atau hal omong kosong lain seperti yang dilakukan “orang pintar” yang mengaku menyayangi bumi tetapi masih menggunakan kendaraan berpolusi.

Laki-laki tersebut membuat aku tergugah untuk lebih berfikir,” apa aku bisa sehebat dia atau hanya menjadi seperti “orang pintar” tadi?

Minggu, 23 Maret 2008

hmmmmm


Aku beristirahat sejenak dikamarku setelah melewati hari yang sungguh melelahkan, seperti hal rutin yang kulakukan , duduk lesehan, dengan alas bantal atau malah tiduran, memegang remote lalu mencari channel yang menurutku menarik. Karena tidak ada program yang menarik kemudian aku berhenti pada satu channel dimana programnya nyaris tidak pernah kulihat sebelumnya yaitu perlombaan nyanyi anak-anak, aku tertegun ketika melihat penonton standing applause kepada seorang anak laki-laki kecil yang baru selesai menyanyi.
Awalnya aku kira cuma biasa-biasa saja, tetapi ketika melihat ia menyanyi sungguh dari hati aku sedikit terpesona, dan ketika ia mengatakan bahwa ia menyanyikan lagu ini untuk ayahnya aku tertegun, kemudian ia menyanyikan sedikit dari lagu tersebut lagi, yang ini ia sebutka bahwa “lagu ini untuk bapak” ,
kemudian ia menyanyi dengan merdunya, dan kamera mengarah kepada ayahnya yang ternyata wajahnya kurang lebih sama kasusnya dengan kasus Lisa “FACE OFF” dari Surabaya kemarin. Terlihat ayahnya meneteskan airmata meihat kejadian itu. Aku pun tanpa sadar ikut meneteskan air mata, yang membuat aku sedih bukan karena suara si anak bagus atau fisik si ayah yang kurang sempurna, tetapi bagaimana si ayah sangat bangga dengan anaknya yang juga bangga terhadapnya dengan keadaannya seperti itu. Ayo kita bercermin, APA AKU BANGGA DENGAN AYAHKU?

Sejarah


Aku sedikit sharing dengan seorang teman yang umurnya jauh di atasku yang aku rasa ia sudah banyak sekali pengalamannya dibandingkan aku. Dia mengatakan sesuatu yang mengena menurutku ia mengatakan “jangan percaya sejarah dari teori atau buku, tapi percayalah kepada tokoh yang mengalami sendiri sejarah tersebut”